Cerita pendek kisah cinta dunia maya

“Fitrah hati adalah mencintai siapa yang menyenangkan hati”

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


ThumbnailSudah beberapa hari ini, hatiku tak karuan. Kadang merasakan kerinduan yang sangat dalam, tetapi di sisi lain rasa cemas akan kehilangan kian datang menerpa. Aku tak mengerti mengapa bisa sampai begitu. Sama seperti aku yang tak memahami mengapa bulan seolah terlihat lebih besar dikegelapan malam akhir-akhir ini. Entahlah, waktu pun terasa sangat lambat sehingga angin yang bergerak cepat pun laksana belaian lembut diwajahku

Benar sekali! Hatiku sedang gundah gulana. Orang menyebutnya galau. Sebuah kondisi yang lebih sering membuat si pemiliknya lemah tak berdaya. Kini, aku sedang didera hal serupa. Menjadi lelaki tak berdaya akibat perasaan yang menggabungkan terasa ingin meledak di semenanjung jiwa. Inikah perasaan itu? Cinta orang bilang! Ah, aku tak tahu. Satu hal yang pasti! Kehadirannya beberapa waktu lalu telah sedikit banyak ‘merenggut’ sifat kelelakianku.

Dia adalah perempuan manis yang aku kenal. Kulitnya putih, wajahnya bersih cantik. Dia adalah gadis menarik yang aku lihat waktu itu. Keanggunannya terlihat berbinar. Meski hanya mengenalnya dari sebuah game online. Dan interaksi kami melalui jejaring sosial bernama whatsaap-lah yang membuat kedekatanku dengannya kian merekah.

Aku tak mengingat pastinya, kapan dan tanggal berapa aku mulai berhubungan dengannya lewat dunia maya. Tetapi, hari itulah, hari yang membuatku kini tenggelam dalam perasaan indah tak terkata.
Dimana hari hari menjadi berwarna taman taman bunga muncul tiba tiba semua jadi indah penuh semangat.

Hari itu senja datang menerpa. Tidak biasanya, langit memburai senyum lewat awan jingga kala itu, cantik! Selepas kuliah aku sempatkan membuka wa hanya sekedar melihat grup chat yang aku buat tadi pagi.

Temanku memasukkan satu wanita yang saat itu masih jadi tanda tanya besar kebenarannya tapi aku sama sekali tak peduli kehadirannya dalam grup.

Seperti biasa saling menyombongkan skil tak terhindarkan kata kata tanpa aturanpun harus berlalu lalang saling berbalas dalam sebuah grup detik detik drama akan segera tercipta dengan munculnya ikut nimbrung seseorang wanita yang pertama ku kenal namanya bernama dini.

Dikosan sendirian sehabis bada isa aku coba iseng mengenal wanita yang bernama dini

Apakah dia benar benar wanita seperti yang di foto guumanku dalam hati di buat penasaran hmmm lumayan cantik

Coba bertanya pada temanku yang sudah vc kebenarannya dan jawabannya seperti yang di harapkan

Beberapa hari kemudian aku semakin rajin menyelidiki kebenaran itu hanya sekedar memuaskan rasa penasaranku sampai juga dapet fbnya yang bernama nuny angraliani kalo ga salah

Mulai yakin

Sekedar iseng iseng untuk mengenalnya aku tanyakan beberapa pertanyaan dan mencoba terbuka tentang sedikit diriku

Dari sekedar iseng perasaan terus tak bisa di tahan menjadi mengaguminya dan terus jadi rasa ingin memiliki

Ahaaha”, ujar sang gadis diakhiri sebuah gambar emoticon senyum. Seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam list temanku beberapa waktu lalu. Ya, siapa lagi kalau bukan dini.

Padahal hanya sebuah jawaban ketawa , tetapi entah mengapa bibir mungilku mulai tersungging senyum dengan sendirinya. Ah, aneh! Tanpa berlama-lama mulai kumainkan jempol jempolku untuk memberikan pertanyaan pertanyaan sembari senyum yang semakin mengembang,

Hari hari berikutnya semenjak itu kami lebih sering terlibat obrolan di dunia maya. Dari sekadar menanyakan kabar, hingga saling membercandai satu sama lain.

Hati-hati wan, nanti suka lho, hhehe..”, ucap seorang teman mengingatkan ketika aku berkisah tentang dini.
“Ah, aku hanya senang aja berteman sama dia” bantahku pada temanku.
“Lagi pula, aku cukup mengerti koq bagaimana semestinya bersikap ketika dengan wanita”, lanjutku membela diri.
Memang, awalnya aku tak mengira bahwa sebuah perasaan bisa terjalin karna dunia maya. Akan tetapi setelah apa yang kulihat, banyak hubungan terjadi akibat dunia maya

Seperti seorang yang tiba-tiba menikah akibat berkenalan lewat facebook. Atau ketika seseorang lelaki menjalin kasih dengan wanita lain karna facebook. Mirisnya, ada juga yang rela melepas pernikahannya karna bertemu dengan mantan kekasihnya dahulu. Kata orang, cinta lama bersemi kembali. Ah, sungguh bodohnya aku andai hal tersebut terjadi padaku.

Namun kenyataannya, disadari atau tidak olehku, hubunganku dengan dini ternyata mengarah pada hal yang selama ini aku tidak percayai. Bahwa sebuah perasaan suka, benci, cinta, bisa tercipta karna dunia maya.

Aku merasa dininabobokan oleh kondisi yang selama ini kuwanti-wanti agar aku tidak terjerumus di dalamnya.
“Ah, peduli amat! Lihat nanti aja”, sebagian batinku bersuara.
Aku pun mulai lebih sering ngobrol dengannya lewat situs jejaring sosial tersebut. Benar kata orang, bahwa cinta itu bisa timbul karna terbiasa. Terbiasa bercengkrama, terbiasa berinteraksi, dan terbiasa membercandai. Dan itulah yang memang kualami, terbiasa ini dan itu.
Aku semakin sering memandang lamat-lamat wajahnya walau itu hanya lewat fotonya saja. Rasanya, walaupun wujud nyatanya berada jauh ratusan kilometer dariku, tetapi aku merasa dia selalu hadir di setiap pagi menyapaku lembut.
Wahai Tuhan, inikah cinta itu?
Ternyata, semakin sering aku berbicara dengannya, walau itu hanya melalui wa lah malah membuatku hatiku semakin tercuri karnanya.

Ingat wan, jaga hati, jangan sampai terjerumus..”, temanku berusaha mengingatkan.

Namun, sekali lagi, kata-kata temanku itu kubuang jauh-jauh. Aku tak peduli. Rasanya semuanya menjadi halal dimataku ketika perasaan seperti itu hinggap di hatiku. Malah aku semakin bersemangat untuk mendapatkannya.

Mulai semakin penasaran aku dengannya. Kucoba mencari akun fbnya supaya kuyakin.

Dapat!” teriakku ketika kudapati facebooknya.
Awalnya aku agak ragu, apa aku mesti addnya atau tidak. Bukan hanya karna teman-temanku selalu mengingatkanku untuk berhati-hati terhadap hubungan semacam ini, akan tetapi lebih kepada prinsip yang selama ini kuyakini, bahwa hubungan itu lebih baik dilakukan ketika tujuannya menikah.

Kepalang tanggung wan! Teruskan saja”, setan dalam diriku mencoba membujukku.
Ya! Kuputuskan untuk melanjutkan saja. Sekali waktu, kucoba mengiriminya sebuah pesan wa,

Bersambung.... Besok di lanjut

Lanjut

Asayalumalaykum dini udah sholat?
Udah aa
Jangan lupa doain aa
balasku padanya diakhiri sebuah emoticon senyum.
Tak berselang berapa menit, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata pesan wa dari dia. Lalu, mulai kubaca satu persatu untaian kata yang tersurat olehnya,
Enya aa neng doain ahaha


Luar biasa! Walau hanya balasan seperti itu, rasanya bagai untaian kata dalam surat cinta yang datang satu tahun sekali buatku. Senangnya! Semenjak itu aku sering melayangkan pesan wa padanya.

Ya, Tuhan, rasanya aku benar-benar jatuh hati padanya. Tetapi uniknya kalau aku ditanya apa alasan aku jatuh hati padanya, aku pun bingung untuk menjawabnya. Karna dia cantik? Ah bukan juga. Karna dia putih? Bukan juga.

Memang benar, bukan cinta jika ia timbul karna alasan. Bukan cinta jika ia datang dengan mengucapkan kata permisi. Segalanya serba dadakan dan rahasia, itulah cinta! Cinta memang tidak logis, tetapi karnanya semua tampak masuk akal.
Akupun semakin larut dalam virus merah jambu ini. Benar-benar ia telah menggerogoti lekuk-lekuk hatiku sedemikian parah.

Bagaimana dengannya?”
“Samakah perasaannya dengan yang kurasai di dalam hati?” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku tak mau menduga-duganya lebih jauh, apakah dia suka aku atau tidak. Biarlah semuanya mengalir seperti air. Yang terpenting adalah membuat segalanya berjalan sesuai rencana dengan tujuan akhir saling menyukai.

Karna intensnya interaksiku lewat dunia maya dengannya, dan diperkuat dengan pesan wa yang sering berlalu-lalang masuk ke handphoneku itulah, aku semakin yakin, bahwa sinyal hatiku dengan hatinya sudah hampir sama, positif!

Untuk itu sekali waktu, lewat wa, aku memberanikan diri untuk menanyakan hal yang selama ini mengganjal hatiku,

Neng aa i love u

Satu menit, dua menit, kutunggu tak ada balasan. Aku khawatir dia malah marah aku telah mengungkapkan apa yang selama ini telah memporak-porandakan hatiku. Tetapi tiba-tiba, handphoneku bergetar. Pesan wa masuk! Mulai kubaca isi sms tersebut yang tidak lain dari sang bidadari.

Iya aa amin

Ya rabb ternyata dia mengaminkan perasaanku saat itu hatiku berbunga bunga sangat bahagia tidak terkira sehingga aku tak mampu berkata kata meski hanya didunia maya

Jujur, mulanya aku tak mengira, bahwa pertemuanku dengannya di dunia maya mampu membuat hatiku dengannya terpaut walau jarak kami dipisahkan dua kota, Bali dan Jakarta. Tetapi ternyata tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Tangan Tuhanlah yang bekerja untuk menghantarkan ‘perasaan’ itu jauh menyusup ke dalam relung-relung hati meski jarak ratusan kilometer menjadi pembatas di antara kami.

Semenjak itu, hari-hariku seperti penuh dengan pelangi. Setiap hari kami berbincang baik lewat dunia maya . Memang, kami belum pernah bertemu secara langsung. Tetapi tidak masalah. Toh perasaan yang terjalin di dunia maya pun mampu merekatkan kami yang jauh.
Setiap hari, melalui wa yang kutulis dengan jemari lentikku, aku akan menanyakan kabarnya, atau sekadar mengirimkan untaian kata sebagai bentuk perhatian kepadanya,

Waktupun bergulir.
Tiba-tiba, aku merasa hubunganku dengannya mulai tidak wajar. Kami semakin menjadi seperti sepasang kekasih atau bahkan mungkin suami-istri. Banyak kata-kata yang semestinya terlontar untuk istriku nanti, keluar begitu saja untuknya. Sayanglah, cintalah, rindulah, dan segala tektek-bengek yang berkaitan dengan itu.
Padahal, semenjak aku mengutarakan rasaku padanya, aku tak pernah memintanya untuk menjadi kekasih. Karna aku tak mau begitu. Kata orang, hubungan semacam ini disebut HTS atau Hubungan Tanpa Status. Apapun namanya, hubungan ini telah membangunkan sisi baikku kembali.

Kamu seharusnya ga terjerumus kearah yang begini wan” sebagian hatiku mencoba mengingatkan.
“Mana prinsip-prinsip baik yang selama ini kamu pegang wan, mana!? Dasar munafik!” hatiku yang lain ikut menimpali.
Ah, ternyata aku salah. Selama ini aku telah mengikuti hawa nafsu semata dan membiarkan kebaikan hati yang kumiliki pudar begitu saja. Benar kata temanku, bahwa perhatian kita pada seseorang terkadang membunuh perhatian kita pada yang lain. Ya, dan satu hal terpenting yang sudah lama tak kuperhatikan adalah hatiku!

Aku telah membiarkan hatiku kotor karna perasaan-perasaan semacam ini. Perasaan yang sebenarnya akan menjadi halal ketika aku mengikatnya dalam altar pernikahan. Tapi kenyataannya? Aku mengikat perasaan ini dalam hubungan tidak jelas, hubungan yang bukan semestinya.

Ya Rabb, maafkan aku.
Aku teringat akan sebuah puisi dari Mbak Asa, seorang temanku yang kukenal dari facebook, dia berkata;

Ini dunia maya,
jangan mudah jatuh cinta.
Hanya karena rayuan semata,
atau indahnya rajutan kata.

Ini dunia maya,
bodohnya bila kita terlena.
Pada indahnya rupa,
atau indahnya tutur kata.

Kau belum mengenalku,
adalah dusta bila kau bilang cinta.
Simpan saja semua rindu,
untuk dia yang nyata hadir menyapa.

Bait-bait puisi ini sedikit banyak menyadarkanku, betapa sebuah perasaan jangan mudah diumbar begitu saja. Apalagi pada orang yang belum jelas kehalalannya untuk kita. Sudah kuputuskan! Aku akan mengakhiri hubungan tak jelas ini dengan dia.

Aku tidak bisa memutuskannya karna cinta ini telah berdarah dalam diriku aku hanya berdoa semoga dia membenciku dan segera memutuskan aku yang tak mungkin bisa mengakhiri hubungan tidak wajar ini

Kubuat rencana dengan pura pura suka pada mantan aku screnshoot percakapanku dan kuberikan padanya

Dan akhirnya keinginan aku terkabul dia memblokir wa dengan alasan ketahuan pacar meski ini keinginanaku tapi tetep galau melanda dengan hebat dalam kehidupan semuanya terasa hampa karna rasa kehilangan

Aku mencoba tegar kesibukan diriku dengan wap jadul ini untuk mencurahkan rasa galau yang semakin hari malah semakin mencekik

Perlahan tapi pasti rasa sakit karna kehilangan mulai mereda

Aku teringat perkataan temanku,

”Jika kita (lelaki) tidak memiliki kesungguhan untuk menikahi seorang wanita, maka jangan bermain-main dengan sebuah hubungan”

Lambat-laun, kucoba untuk mematri kata-kata tersebut di dalam dada lekat-lekat, dan menjadikannya kata penyemangat untuk terus memperbaiki diri agar nanti ketika pernikahan itu datang menyapa dalam kehidupanku, akan semakin terasa nikmat. Semoga Allah meridhaiku seterusnya.

Back to posts
Comments:
[2018-08-29 00:21:14] Ziant :

Sama

[2018-08-29 00:21:41] Ziant :

Sabar yah


Post a comment

panel
waplog
CopyRight © 2010
cileuksa wap


Teya Salat